Kalau mendengar kata wayang kulit, banyak orang langsung membayangkan pertunjukan semalam suntuk, kelir putih, suara gamelan, dan dalang yang bercerita dengan penuh wibawa.
Tapi sebelum wayang tampil di panggung, ada proses panjang yang jarang dilihat orang: proses membuat wayang itu sendiri. Di Dusun Pucung, Kalurahan Wukirsari, Imogiri, Bantul, proses itu masih hidup lewat seni tatah sungging wayang kulit.
Di sini, kulit sapi atau kerbau diolah dengan teliti, dipahat sedikit demi sedikit, lalu diberi warna hingga berubah menjadi tokoh wayang yang penuh karakter. Tatah sungging bukan sekadar kerajinan tangan.
Ia adalah perpaduan antara seni rupa, ketekunan, filosofi Jawa, dan keterampilan turun-temurun. Karena itu, mengenal tatah sungging wayang kulit di Dusun Pucung berarti ikut mengenal salah satu identitas budaya Wukirsari yang masih lestari.
Menariknya, wisatawan kini tidak hanya bisa melihat hasil jadi. Mereka juga bisa ikut belajar memahat, mewarnai, mengenal filosofi tokoh, hingga berkeliling kampung wayang.
Apa Itu Tatah Sungging?
Secara sederhana, tatah sungging adalah seni memahat dan mewarnai pada satu media. Dalam konteks Dusun Pucung, media yang digunakan biasanya kulit sapi atau kerbau, lalu dibuat menjadi wayang kulit dan berbagai produk kerajinan lainnya.
Laman Kalurahan Wukirsari menjelaskan bahwa tatah sungging merupakan seni memahat dan mewarna dalam satu media, terutama untuk kerajinan wayang kulit.
Kata “tatah” merujuk pada proses memahat atau melubangi kulit sesuai pola. Proses ini membutuhkan alat khusus, ketelitian tinggi, dan tangan yang stabil. Sementara itu, “sungging” adalah proses memberi warna pada kulit yang sudah dipahat.
Hasil akhirnya bukan hanya benda kerajinan. Wayang kulit yang selesai dibuat punya bentuk, warna, ornamen, dan karakter yang khas. Setiap detail memiliki fungsi estetis sekaligus makna simbolis.
Dalam dunia wayang, bentuk mata, hidung, tubuh, posisi tangan, hingga warna wajah bisa menggambarkan watak tokoh. Karena itu, perajin tatah sungging tidak hanya bekerja sebagai pembuat benda, tetapi juga sebagai penjaga bahasa visual dalam budaya Jawa.
Dusun Pucung, Sentra Wayang Kulit di Wukirsari
Dusun Pucung Karangasem berada di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah ini dikenal sebagai sentra kerajinan tatah sungging kulit, terutama wayang.
Jelajah Bantul juga mencatat bahwa Pucung Wukirsari merupakan sentra kerajinan tatah sungging kulit dengan media kulit sapi atau kerbau. Keunikan Dusun Pucung terletak pada kehidupan masyarakatnya yang dekat dengan kerajinan kulit.
Di beberapa rumah, aktivitas membuat wayang bukan hal asing. Ada yang fokus menatah, ada yang menyungging, ada yang mengurus bahan, dan ada pula yang membantu pemasaran.
Laman Kalurahan Wukirsari menyebut bahwa Dusun Pucung dahulu hanya memiliki 5 perajin, lalu berkembang menjadi 1.060 perajin dengan 138 pengusaha pengepul. Data ini menunjukkan betapa besar perkembangan kerajinan tatah sungging di kawasan tersebut.
Perkembangan itu tidak terjadi secara instan. Ia tumbuh dari keterampilan warga, kebutuhan pasar, kecintaan pada wayang, serta kemampuan masyarakat beradaptasi dengan dunia wisata dan ekonomi kreatif.
Proses Membuat Wayang Kulit dari Awal
Membuat wayang kulit bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam hitungan menit. Ada banyak tahap yang harus dilalui, dan setiap tahap membutuhkan ketelitian.
Proses biasanya dimulai dari pemilihan bahan kulit. Kulit sapi atau kerbau dipilih karena kuat, lentur, dan cocok untuk dipahat. Setelah itu, kulit diproses hingga siap digunakan sebagai media wayang.
Tahap berikutnya adalah membuat pola. Pola tokoh wayang digambar di atas kulit sesuai karakter yang akan dibuat. Tokoh ksatria, raksasa, punakawan, dewa, atau tokoh perempuan memiliki bentuk yang berbeda.
Setelah pola siap, perajin mulai menatah. Bagian-bagian tertentu dilubangi dan dibentuk menggunakan alat pahat. Inilah salah satu tahap paling penting karena menentukan detail bentuk wayang.
Setelah proses tatah selesai, wayang masuk ke tahap sungging atau pewarnaan. Warna diberikan secara bertahap agar karakter tokoh terlihat hidup. Setelah itu, wayang diberi gapit atau tangkai agar bisa digerakkan saat pertunjukan.
Alat-Alat dalam Tatah Sungging
Salah satu hal menarik dari tatah sungging adalah alatnya. Proses memahat wayang tidak menggunakan satu jenis pisau saja.
Wisata Wayang Wukirsari menjelaskan bahwa kegiatan memahat wayang menggunakan pisau pahat yang disebut “tatah”, dengan 20 bentuk mata pisau yang memiliki fungsi berbeda sesuai bentuk pola.
Selain tatah, ada juga ganden atau palu kecil untuk memukul alat pahat. Ada dumpal atau papan alas, serta malam yang digunakan sebagai pelumas. Alat-alat ini terlihat sederhana, tetapi sangat penting dalam menghasilkan detail wayang yang rapi.
Dalam proses sungging, alat yang digunakan berbeda lagi. Perajin biasanya memakai kuas, pen bambu, cat, dan papan. Pewarnaan tidak boleh asal sapu. Ada pola, susunan warna, dan aturan visual yang harus dipahami agar karakter wayang terlihat tepat.
Dari sini terlihat bahwa tatah sungging bukan hanya soal “bisa menggambar”. Seni ini membutuhkan pemahaman bahan, alat, pola, warna, dan karakter tokoh.
Makna Bentuk dan Warna dalam Wayang
Wayang kulit tidak hanya indah karena detailnya. Di balik bentuk dan warnanya, ada makna yang cukup dalam. Setiap tokoh memiliki karakter berbeda, dan perbedaan itu dapat dilihat dari bentuk wajah, mata, hidung, tubuh, serta warna yang digunakan.
Tokoh berwajah halus biasanya menggambarkan karakter lembut, bijaksana, atau luhur. Sebaliknya, tokoh dengan bentuk mata besar, mulut terbuka, atau tubuh gagah sering menggambarkan karakter keras, kuat, atau penuh ambisi.
Warna juga punya peran penting. Warna tertentu bisa menggambarkan keberanian, kesucian, kemarahan, kebijaksanaan, atau kekuatan spiritual. Karena itu, proses sungging tidak bisa dilakukan sembarangan.
Wisata Wayang Wukirsari bahkan memiliki kelas filosofi wayang yang mengajak wisatawan mengenal karakter tokoh serta makna bentuk dan warna dalam dunia wayang.
Bagi orang yang baru mengenal wayang, bagian ini sangat menarik. Ternyata, sebuah wayang bukan hanya benda seni, tetapi juga “teks visual” yang bisa dibaca melalui simbol-simbolnya.
Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya
Wayang kulit punya posisi penting dalam budaya Indonesia, khususnya Jawa.
NESCO mencatat wayang puppet theatre sebagai bentuk cerita tradisional yang terkenal dengan boneka yang rumit dan gaya musikal yang kompleks, serta berkembang di lingkungan istana maupun pedesaan Jawa dan Bali selama berabad-abad.
Pengakuan ini menunjukkan bahwa wayang bukan hanya hiburan lokal. Ia adalah warisan budaya dunia yang memiliki nilai seni, sejarah, pendidikan, dan spiritual.
Dalam pertunjukan wayang, ada banyak unsur yang bekerja bersama. Ada dalang, gamelan, sinden, cerita, tokoh, kelir, lampu, dan tentu saja wayang kulit sebagai media utama.
Karena itu, perajin tatah sungging punya peran penting. Tanpa perajin, pertunjukan wayang akan kehilangan salah satu unsur utamanya. Mereka menjaga agar bentuk tokoh, detail ornamen, dan karakter visual wayang tetap hidup.
Dusun Pucung menjadi bagian dari rantai pelestarian ini. Dari tangan para perajin, wayang tidak hanya menjadi benda koleksi, tetapi juga terus terhubung dengan tradisi pertunjukan dan edukasi budaya.
Tidak Hanya Wayang, Produk Kulit Juga Berkembang
Walaupun wayang menjadi produk paling terkenal, kerajinan tatah sungging di Pucung tidak berhenti pada wayang saja.
Laman Kalurahan Wukirsari mencatat bahwa produk kerajinan kulit di Dusun Pucung juga mencakup kap lampu, pembatas buku, tempat tisu, tempat lilin, kipas, gantungan kunci, hiasan dinding, dan produk lainnya.
Inovasi produk ini penting karena tidak semua orang membeli wayang ukuran besar. Ada wisatawan yang lebih suka membeli suvenir kecil, seperti gantungan kunci atau pembatas buku. Ada juga yang mencari dekorasi rumah berbahan kulit.
Dengan variasi produk, kerajinan tatah sungging bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Perajin tetap mempertahankan teknik tradisional, tetapi bentuk produknya bisa disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Jurnal Corak ISI Yogyakarta juga mencatat bahwa perajin Pucung mengembangkan produk selain wayang, seperti kap lampu, pembatas buku, tempat tisu, kipas, gantungan kunci, dan hiasan dinding. Inovasi dilakukan mengikuti perkembangan serta permintaan konsumen.
Peran Kelompok Perajin di Pucung
Salah satu kekuatan kerajinan Pucung adalah komunitasnya. Perajin tidak bekerja sendiri-sendiri tanpa arah.
Dalam penelitian yang dimuat di Jurnal Corak ISI Yogyakarta, disebutkan bahwa perajin tergabung dalam kelompok seperti “Bimo Sukses” dan “Srikandi”, dengan masing-masing kelompok terdiri dari 15 sampai 20 anggota.
Pembagian kerja juga cukup menarik. Ada yang fokus pada tatahan, ada yang mengerjakan sunggingan, ada yang mengurus material, dan ada yang membantu pemasaran. Pola seperti ini membuat produksi lebih tertata.
Kelompok perajin juga membantu proses regenerasi. Anggota yang lebih berpengalaman bisa berbagi ilmu kepada perajin lain. Ketika ada pesanan besar atau kunjungan wisata, kerja kelompok membuat semuanya lebih mudah diatur.
Bagi desa wisata, keberadaan kelompok seperti ini sangat penting. Wisata budaya tidak bisa bergantung pada satu orang saja. Ia butuh ekosistem masyarakat yang saling mendukung.
Eduwisata Tatah Sungging di Dusun Pucung
Hari ini, tatah sungging di Dusun Pucung tidak hanya menjadi aktivitas produksi. Ia juga berkembang sebagai eduwisata budaya. Wisatawan bisa datang untuk belajar mewarnai wayang, mencoba memahat, mengikuti kelas filosofi wayang, atau telusur kampung wayang.
Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat atraksi Tatah Sungging Wayang di Desa Wisata Wukirsari sebagai eduwisata sungging atau mewarnai kerajinan kulit seperti kipas, gantungan kunci, dan pembatas buku.
Fasilitas yang disebutkan antara lain kamar mandi umum, kesenian dan budaya, musholla, persewaan alat, selfie area, dan wifi area.
Wisata Wayang Wukirsari juga menawarkan beberapa pilihan aktivitas, seperti memahat wayang, mewarnai wayang, kelas filosofi wayang, dan telusur kampung wayang. Beberapa aktivitas berdurasi sekitar 1,5 sampai 2 jam, tergantung jenis kegiatan yang dipilih.
Konsep seperti ini membuat wisatawan tidak hanya pulang membawa foto. Mereka pulang dengan pengalaman, pemahaman, dan kadang membawa hasil karya sendiri.
Mengapa Eduwisata Wayang Menarik untuk Keluarga?
Eduwisata tatah sungging sangat cocok untuk keluarga, sekolah, komunitas, dan wisatawan yang suka pengalaman budaya. Anak-anak bisa belajar bahwa wayang bukan hanya tontonan lama, tetapi hasil karya seni yang rumit dan penuh makna.
Saat mencoba mewarnai wayang, misalnya, peserta akan belajar mengikuti pola. Mereka tidak hanya menyapukan cat sesuka hati, tetapi memahami bahwa setiap warna dan detail punya peran.
Aktivitas seperti ini juga melatih kesabaran. Membuat garis rapi, memilih warna, dan memperhatikan bentuk kecil membutuhkan fokus. Anak-anak bisa belajar budaya sambil melatih kreativitas.
Bagi orang dewasa, eduwisata ini memberi sudut pandang baru. Setelah melihat prosesnya, biasanya orang akan lebih menghargai harga sebuah wayang atau kerajinan kulit handmade.
Tantangan Pelestarian Tatah Sungging
Meski masih lestari, tatah sungging tetap punya tantangan. Salah satunya adalah regenerasi perajin. Anak muda perlu dikenalkan bahwa seni tradisional ini bukan pekerjaan kuno, tetapi aset budaya dan peluang ekonomi kreatif.
Tantangan lainnya adalah persaingan produk massal. Produk murah yang dibuat pabrikan bisa membuat kerajinan tangan terlihat mahal. Padahal, harga tatah sungging mencerminkan waktu, keterampilan, bahan, dan nilai budaya.
Selain itu, perajin juga perlu terus beradaptasi dengan pasar. Wayang klasik tetap penting, tetapi produk turunan seperti suvenir, dekorasi, aksesori, dan paket wisata bisa membantu memperluas jangkauan.
Pucung sudah menunjukkan arah yang baik lewat pengembangan produk dan eduwisata. Namun, pelestarian tetap membutuhkan dukungan banyak pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah, wisatawan, pelaku pendidikan, hingga pembeli produk lokal.
Tips Berkunjung ke Dusun Pucung
Kalau ingin mengenal tatah sungging lebih dekat, datanglah dengan waktu yang cukup. Jangan hanya mampir sebentar. Pilih kegiatan yang sesuai, misalnya mewarnai wayang untuk pengalaman ringan atau memahat wayang jika ingin mencoba proses yang lebih teknis.
Sebaiknya hubungi pengelola wisata terlebih dahulu, terutama jika datang bersama rombongan. Beberapa paket biasanya memiliki minimal peserta dan perlu persiapan alat.
Saat berkunjung, jangan ragu bertanya kepada perajin. Mereka biasanya punya banyak cerita menarik tentang proses, tokoh wayang, bahan kulit, hingga tantangan membuat detail kecil.
Yang paling penting, hargai prosesnya. Jangan hanya melihat produk dari sisi mahal atau murah. Ingat bahwa di balik satu karya, ada waktu, tenaga, pengalaman, dan warisan budaya yang panjang.
Tatah sungging wayang kulit di Dusun Pucung adalah salah satu kekayaan budaya Wukirsari yang sangat berharga.
Seni ini memadukan keterampilan memahat, mewarnai, memahami karakter wayang, dan menjaga filosofi Jawa dalam bentuk visual yang indah.
Dusun Pucung bukan hanya sentra produksi wayang kulit, tetapi juga ruang belajar budaya. Wisatawan bisa melihat proses pembuatan wayang, mengikuti workshop, mewarnai, memahat, hingga mengenal filosofi tokoh.
Jika Anda berkunjung ke Bantul, sempatkan datang ke Pucung Wukirsari. Belilah karya perajin lokal, ikuti eduwisata tatah sungging, dan bantu menjaga warisan wayang kulit agar tetap hidup di tangan generasi berikutnya.
FAQ
1. Apa itu tatah sungging?
Tatah sungging adalah seni memahat dan mewarnai dalam satu media. Di Dusun Pucung, media yang umum digunakan adalah kulit sapi atau kerbau untuk membuat wayang kulit dan kerajinan kulit.
2. Di mana lokasi Dusun Pucung?
Dusun Pucung berada di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
3. Apa produk utama kerajinan Pucung?
Produk utamanya adalah wayang kulit. Selain itu, perajin juga membuat kap lampu, pembatas buku, kipas, gantungan kunci, hiasan dinding, tempat tisu, dan suvenir kulit lainnya.
4. Apakah wisatawan bisa belajar tatah sungging?
Ya. Wisatawan bisa mengikuti eduwisata seperti memahat wayang, mewarnai wayang, kelas filosofi wayang, atau telusur kampung wayang di Desa Wisata Wukirsari.
5. Mengapa tatah sungging penting dilestarikan?
Tatah sungging penting dilestarikan karena menjadi bagian dari warisan wayang kulit, identitas budaya Wukirsari, sumber ekonomi masyarakat, dan media edukasi budaya Jawa.