Membayangkan Wukirsari tempo dulu seperti membuka album lama tentang kehidupan desa Jawa yang hangat.
Ada suara aktivitas warga di pagi hari, orang-orang pergi ke sawah, ibu-ibu menyiapkan pekerjaan rumah, perajin batik duduk tekun di depan kain, dan para pembuat wayang mengolah kulit menjadi karya seni bernilai tinggi.
Jejak kehidupan masyarakat Wukirsari tempo dulu tidak hanya tersimpan dalam cerita lisan. Ia juga bisa dibaca dari sejarah desa, tradisi kerajinan, pola permukiman, seni budaya, dan kebiasaan gotong royong yang masih terasa sampai sekarang.
Wukirsari berada di Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini dikenal sebagai wilayah yang kaya budaya, mulai dari Batik Giriloyo, tatah sungging wayang Pucung, kerajinan bambu, wisata religi, sampai kesenian tradisional.
Dari kehidupan yang sederhana, masyarakat Wukirsari pelan-pelan membangun identitas sebagai desa budaya dan desa wisata yang dikenal luas.
Wukirsari Tempo Dulu: Desa yang Dekat dengan Alam
Sebelum dikenal sebagai desa wisata, Wukirsari hidup sebagai desa yang kuat dengan karakter agraris dan budaya. Nama Wukirsari sendiri berasal dari kata “Wukir” yang berarti gunung dan “Sari” yang berarti bagus atau baik.
Makna ini menggambarkan wilayah pegunungan atau perbukitan yang baik, sesuai dengan karakter alam Imogiri yang dekat dengan bukit, lembah, dan area pertanian.
Dalam data kondisi umum Kalurahan Wukirsari, wilayah ini berada sekitar 16 kilometer di sebelah selatan Kota Yogyakarta.
Luas wilayahnya tercatat 15.385.504 meter persegi, dengan karakter pengembangan sebagai kawasan agribisnis, cagar budaya, cagar alam, kawasan lindung, dan wisata minat khusus.
Dari gambaran itu, kita bisa melihat bahwa kehidupan warga tempo dulu sangat dekat dengan alam. Sawah, kebun, sungai kecil, pekarangan rumah, dan perbukitan bukan hanya pemandangan, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Masyarakat desa biasanya hidup dengan ritme yang pelan tetapi produktif. Pagi hari diisi dengan bekerja, siang untuk istirahat atau melanjutkan pekerjaan rumahan, sedangkan malam menjadi waktu berkumpul, bercengkerama, atau mengikuti kegiatan sosial dan budaya.
Lahir dari Empat Wilayah Lama
Salah satu bagian penting dari jejak kehidupan Wukirsari adalah sejarah pembentukannya. Kalurahan Wukirsari awalnya merupakan gabungan dari empat kelurahan lama, yaitu Giriloyo, Pucung, Pajimatan, dan Singosaren.
Pada tahun 1946, keempat wilayah tersebut bergabung menjadi satu desa yang dahulu dikenal dengan sebutan “Catur Manunggal Mukti”. Penggabungan ini menarik karena setiap wilayah membawa ciri khasnya sendiri.
Giriloyo kemudian dikenal kuat dengan batik tulis. Pucung identik dengan tatah sungging dan wayang kulit. Pajimatan dekat dengan kawasan religi dan sejarah Imogiri. Singosaren menjadi bagian dari kehidupan sosial, pertanian, dan permukiman warga.
Dari sinilah kehidupan masyarakat Wukirsari punya warna yang beragam. Desa ini tidak hanya dibentuk oleh batas administratif, tetapi juga oleh tradisi dan keterampilan warga dari berbagai pedukuhan.
Saat ini, Wukirsari terdiri dari 16 pedukuhan. Pembagian ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakatnya tersebar dalam banyak kampung kecil yang memiliki cerita, tradisi, dan potensi masing-masing.
Kehidupan Agraris dan Hasil Bumi Desa
Tempo dulu, kehidupan masyarakat Wukirsari sangat lekat dengan hasil bumi. Ini terlihat dari tradisi kirab budaya yang masih mengangkat simbol-simbol pertanian.
Dalam peringatan hari jadi Wukirsari tahun 2022, misalnya, kirab budaya diikuti empat kalurahan lama dengan membawa empat gunungan hasil bumi Kalurahan Wukirsari.
Gunungan hasil bumi bukan sekadar hiasan acara. Ia menjadi simbol hubungan masyarakat desa dengan tanah, pangan, kerja keras, dan rasa syukur. Bagi masyarakat agraris, hasil panen adalah bagian penting dari kehidupan sosial.
Pada masa lalu, warga desa tidak hanya bekerja untuk kebutuhan pribadi. Banyak pekerjaan dilakukan bersama, mulai dari mengolah lahan, membantu tetangga, memperbaiki fasilitas kampung, sampai menyiapkan acara adat.
Dari sini, kita bisa memahami bahwa gotong royong bukan slogan kosong. Di Wukirsari, nilai itu tumbuh dari kebutuhan hidup sehari-hari. Orang saling membantu karena kehidupan desa memang menuntut kebersamaan.
Batik Giriloyo dan Perempuan Perajin
Salah satu jejak kehidupan masyarakat Wukirsari tempo dulu yang paling kuat adalah tradisi batik tulis di Giriloyo. Kampung ini dikenal sebagai sentra batik tulis yang penting di Bantul.
Laman Kalurahan Wukirsari menyebut Giriloyo sebagai sentra batik tulis terbesar di tenggara Yogyakarta.
Batik tulis bukan pekerjaan instan. Prosesnya panjang, mulai dari membuat pola, mencanting malam, memberi warna, melorod, mencuci, hingga kain siap digunakan. Aktivitas ini membutuhkan ketelatenan, ketelitian, dan rasa seni.
Tempo dulu, membatik sering menjadi bagian dari pekerjaan rumahan. Banyak warga, terutama perempuan, mengerjakan batik di sela kehidupan keluarga. Dari rumah-rumah sederhana, lahirlah kain batik yang membawa nilai budaya dan ekonomi.
Menariknya, batik Giriloyo hari ini tidak hanya menjadi produk jualan. Ia berkembang menjadi wisata edukasi. Wisatawan bisa datang untuk belajar membatik langsung dari perajin.
Perubahan ini menunjukkan bahwa keterampilan tempo dulu masih relevan dan bisa menjadi sumber penghidupan masa kini.
Batik sebagai Cerita Keluarga
Bagi masyarakat Giriloyo, batik bukan sekadar kain bermotif. Di dalamnya ada cerita keluarga, ketekunan ibu-ibu, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Setiap goresan canting memiliki proses. Setiap motif punya makna. Setiap kain membutuhkan waktu. Karena itu, batik tulis selalu terasa lebih personal dibanding produk massal.
Wayang Pucung dan Keterampilan Tatah Sungging
Selain batik, kehidupan masyarakat Wukirsari tempo dulu juga tampak dalam kerajinan wayang kulit di Pucung Karangasem.
Dusun ini dikenal sebagai sentra tatah sungging kulit, terutama wayang. Tatah sungging adalah seni memahat dan mewarnai dalam satu media, biasanya menggunakan kulit sapi atau kerbau.
Dulu, kerajinan wayang mungkin lebih dekat dengan kebutuhan seni pertunjukan dan tradisi Jawa. Namun seiring waktu, produk yang dibuat tidak hanya wayang, tetapi juga kap lampu, pembatas buku, tempat tisu, tempat lilin, kipas, gantungan kunci, dan hiasan dinding.
Perkembangan jumlah perajin juga menunjukkan kuatnya tradisi ini. Laman Kalurahan Wukirsari mencatat bahwa Pucung dahulu hanya memiliki 5 perajin, lalu berkembang menjadi 1.060 perajin dengan 138 pengusaha pengepul.
Angka tersebut memberi gambaran bahwa keterampilan tradisional bisa menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Dari pekerjaan tangan yang diwariskan, warga mampu membangun industri rumahan yang menghidupi banyak keluarga.
Wayang sebagai Ruang Belajar Budaya
Wayang tidak hanya dipahami sebagai benda kerajinan. Di dalamnya ada cerita tokoh, nilai moral, seni rupa, musik gamelan, dan tradisi pertunjukan.
Di Pucung, wisatawan juga bisa mengikuti workshop tatah sungging. Mereka dapat melihat bagaimana kulit mentah dipahat, diberi warna, lalu menjadi karya yang penuh detail.
Pengalaman seperti ini membuat budaya terasa hidup, bukan hanya dilihat dari kejauhan.
Pajimatan dan Nuansa Religi dalam Kehidupan Warga
Jejak kehidupan masyarakat Wukirsari tempo dulu juga dekat dengan kawasan Pajimatan dan Imogiri. Wilayah ini memiliki hubungan kuat dengan sejarah, ziarah, dan tradisi religi Jawa.
Pajimatan menjadi salah satu wilayah lama yang bergabung membentuk Wukirsari. Keberadaannya membuat desa ini tidak hanya dikenal sebagai tempat kerajinan, tetapi juga sebagai ruang yang dekat dengan sejarah Mataram dan tradisi ziarah masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat desa, tempat-tempat sakral biasanya memiliki peran penting. Warga tidak hanya melihatnya sebagai lokasi kunjungan, tetapi sebagai bagian dari identitas, tata krama, dan nilai spiritual.
Itulah mengapa wisata religi di sekitar Imogiri perlu dinikmati dengan sikap hormat. Ada etika berpakaian, tata cara berkunjung, dan kebiasaan lokal yang perlu dijaga.
Kerajinan Rumahan dan Ekonomi Keluarga
Wukirsari tempo dulu juga bisa dibaca dari banyaknya kerajinan rumahan. Selain batik dan wayang, desa ini memiliki kerajinan bambu, rajut, kulit, genteng, dan berbagai produk lokal lain.
Laman Kalurahan Wukirsari mencatat bahwa desa ini memiliki banyak jenis kerajinan, seperti genteng di Dusun Bendo, rajut di Nogosari I dan Nogosari II, kerajinan kulit di Karangasem, anyaman dan kursi bambu di Karangtalun, serta batik di Karangkulon, Giriloyo, dan Cengkehan.
Kerajinan bambu juga menjadi bagian penting. Data Kalurahan menyebut adanya ratusan perajin bambu yang tersebar di Karangtalun, Jatirejo, Dengkeng, Karangasem, dan Nogosari. Kerajinan ini bersifat home industry dan dikerjakan turun-temurun.
Dari sini terlihat bahwa masyarakat Wukirsari tidak hanya bergantung pada pertanian. Mereka juga membangun ekonomi keluarga dari keterampilan tangan. Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang produksi, belajar, dan bekerja.
Seni, Gamelan, dan Kehidupan Malam Desa
Kehidupan masyarakat Wukirsari tempo dulu tidak hanya soal bekerja. Ada juga ruang seni dan hiburan tradisional yang mengikat warga.
Kegiatan seni dan budaya di Wukirsari disebut cukup beragam, mulai dari gamelan, wayang kulit, selawat Jawa, dan berbagai kesenian lain.
Di desa, seni sering menjadi bagian dari acara sosial. Ada pertunjukan saat merti dusun, hajatan, peringatan hari besar, atau kegiatan budaya. Orang-orang datang bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk bertemu tetangga dan menjaga hubungan sosial.
Karawitan juga menjadi bagian penting dari lingkungan Pucung Karangasem. Dalam informasi Kalurahan Wukirsari, karawitan disebut sebagai pertunjukan gamelan untuk mengiringi wayang, dengan sinden dan wiraswara sebagai pengisi vokal.
Suasana seperti ini membuat kehidupan desa terasa komunal. Malam hari tidak selalu identik dengan sepi. Kadang ia diisi bunyi gamelan, percakapan warga, dan kegiatan budaya yang mempererat rasa memiliki.
Dari Kehidupan Tradisional ke Desa Wisata
Seiring waktu, jejak kehidupan masyarakat Wukirsari tempo dulu tidak hilang. Justru banyak yang berubah menjadi daya tarik wisata budaya.
Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat Desa Wisata Wukirsari memiliki berbagai paket wisata, seperti edukasi batik, live in, dolanan anak, selawat Rodad, dan kegiatan budaya lainnya. Wukirsari juga tercatat masuk 75 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2023.
Perubahan ini menunjukkan bahwa tradisi desa bisa dikemas menjadi pengalaman wisata tanpa harus kehilangan akarnya. Wisatawan datang bukan hanya untuk foto, tetapi juga belajar, berinteraksi, dan memahami proses budaya.
Pada tahun 2024, Wukirsari meraih penghargaan Best Tourism Village dari UN Tourism. Pemerintah Kabupaten Bantul menyebut Wukirsari terpilih sebagai salah satu dari 55 desa wisata terbaik dunia tahun 2024.
Pengakuan ini menjadi bukti bahwa kehidupan masyarakat lokal, jika dikelola dengan baik, bisa memiliki nilai besar. Tradisi yang dulu dianggap biasa oleh warga ternyata menjadi sesuatu yang istimewa bagi dunia luar.
Pelajaran dari Wukirsari Tempo Dulu
Ada banyak pelajaran dari kehidupan masyarakat Wukirsari tempo dulu. Pertama, desa yang kuat biasanya dibangun dari kebersamaan. Gotong royong, saling membantu, dan keterlibatan warga menjadi modal sosial yang sangat penting.
Kedua, keterampilan tradisional tidak boleh dianggap kuno. Batik, wayang, bambu, rajut, dan kerajinan kulit terbukti bisa menjadi sumber ekonomi jika terus dikembangkan.
Ketiga, budaya harus hidup di tengah masyarakat. Jika seni hanya disimpan sebagai pajangan, lama-lama ia bisa kehilangan makna. Namun ketika seni masih dipraktikkan, diajarkan, dan dirayakan, budaya akan terus bernapas.
Wukirsari memberi contoh bahwa masa lalu bukan sesuatu yang harus ditinggalkan. Masa lalu bisa menjadi akar untuk membangun masa depan yang lebih kuat.
Jejak kehidupan masyarakat Wukirsari tempo dulu adalah cerita tentang desa yang tumbuh dari alam, kerja keras, budaya, dan kebersamaan.
Dari kehidupan agraris, tradisi membatik, kerajinan wayang, seni gamelan, wisata religi, hingga industri rumahan, semuanya membentuk identitas Wukirsari sebagai desa budaya di Bantul.
Yang menarik, banyak jejak lama itu masih terasa sampai sekarang. Batik Giriloyo tetap hidup, wayang Pucung terus dibuat, kerajinan bambu masih berkembang, dan kegiatan budaya tetap dijaga masyarakat.
Jika Anda ingin mengenal Wukirsari lebih dalam, jangan hanya melihatnya sebagai destinasi wisata. Datanglah sebagai tamu yang ingin belajar. Dengarkan cerita warganya, lihat proses kerajinannya, dan rasakan sendiri hangatnya kehidupan desa budaya.
FAQ
1. Apa ciri utama kehidupan masyarakat Wukirsari tempo dulu?
Ciri utamanya adalah kehidupan agraris, gotong royong, kerajinan rumahan, seni tradisional, dan kedekatan dengan budaya Jawa serta kawasan Imogiri.
2. Kerajinan apa yang sudah lama berkembang di Wukirsari?
Kerajinan yang dikenal lama berkembang di Wukirsari antara lain batik tulis Giriloyo, tatah sungging wayang Pucung, kerajinan bambu, rajut, kulit, dan genteng.
3. Mengapa Giriloyo penting dalam cerita Wukirsari?
Giriloyo penting karena dikenal sebagai sentra batik tulis yang menjadi salah satu identitas utama Wukirsari sebagai desa budaya dan desa wisata edukasi.
4. Apa hubungan Pucung dengan wayang kulit?
Pucung Karangasem dikenal sebagai sentra tatah sungging kulit, terutama pembuatan wayang kulit dan berbagai kerajinan berbahan kulit.
5. Apakah tradisi tempo dulu masih hidup di Wukirsari?
Ya. Banyak tradisi masih hidup, terutama batik tulis, wayang kulit, karawitan, selawat Jawa, kerajinan bambu, wisata religi, dan kegiatan budaya masyarakat.